Gudang Pabrik Gula di Situbondo dan Bondowoso Menumpuk, DPR Desak Pemerintah Bertindak

admin - Senin, 11 Agustus 2025 16:47 WIB
Anggota Komisi VI DPR RI, Nasim Khan, menyoroti menumpuknya stok gula pasir di sejumlah pabrik gula di wilayah Situbondo dan Bondowoso, Jawa Timur.

JELAJAHNEWS.ID -Anggota Komisi VI DPR RI, Nasim Khan, menyoroti menumpuknya stok gula pasir di sejumlah pabrik gula di wilayah Situbondo dan Bondowoso, Jawa Timur. Tumpukan gula tersebut belum terserap pasar, sementara gula rafinasi justru membanjiri peredaran.

Kondisi ini terungkap dalam audiensi Nasim Khan bersama Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) dan para General Manager (GM) pabrik gula di Regional 4 Jawa Timur, yang digelar di Pabrik Gula (PG) Prajekan, Bondowoso, Minggu (10/8/2025).

Data yang dipaparkan dalam pertemuan menunjukkan angka yang cukup mencengangkan. Di PG Prajekan, tercatat 4.600 ton gula belum terjual dengan nilai sekitar Rp60 miliar. PG Assembagoes, Situbondo, menyisakan 5.000 ton gula setara Rp50 miliar. Sementara PG Panji menyimpan 2.500 ton senilai Rp36 miliar, dan PG Wringin Anom menumpuk 3.900 ton gula yang tidak terserap pasar selama delapan periode terakhir.

"Ini ibarat nyawa di tenggorokan. Petani sudah menunggu pembayaran, tapi gula tidak laku di pasaran," ujar Chandra Sakri Widjaja, GM PG Prajekan.

Masalah tersebut salah satunya dipicu oleh peredaran gula rafinasi di pasar ritel, yang seharusnya hanya untuk industri makanan dan minuman. Gula rafinasi berwarna lebih putih, rasanya kurang manis dibanding gula kristal putih, dan dijual lebih murah. Saat ini harga gula rafinasi di pasaran berkisar Rp13.600 per kilogram, sedangkan gula produksi pabrik rakyat berada di kisaran Rp14.400 per kilogram. Harga acuan penjualan (HAP) yang ditetapkan pemerintah adalah Rp14.500 per kilogram.

Akibat stagnasi penjualan, pembayaran kepada petani tertunda. GM PG Assembagoes, Mulyono, mengungkapkan bahwa pihaknya sudah empat periode giling belum bisa melunasi pembayaran tebu petani. Bahkan sisa gula musim giling sebelumnya masih mencapai 140 ribu ton yang belum terserap pasar.

Sepekan lalu, pengurus APTRI Pusat telah berkoordinasi dengan kementerian terkait. Salah satu opsi yang dibahas adalah pembelian sementara gula oleh PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) menggunakan dana Danantara, untuk mengosongkan gudang dan memberi ruang napas bagi petani.


Editor
: editor

Tag:

Berita Terkait