JELAJAHNEWS.ID -Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Muhammad Bobby Afif Nasution meminta Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sumut memperkuat pembinaan atlet dan menjaga integritas olahraga guna mempertahankan tren positif prestasi daerah di tingkat nasional. Langkah tersebut dinilai penting agar capaian Sumut pada Pekan Olahraga Nasional (PON) 2024 tidak hanya menjadi prestasi sesaat, tetapi dapat dipertahankan secara berkelanjutan.
Pesan itu disampaikan Bobby Nasution saat menerima audiensi pengurus KONI Sumut di ruang kerjanya, Kantor Gubernur Sumut, Jalan Diponegoro Nomor 30, Medan, Selasa (7/4/2026). Pertemuan tersebut dihadiri Ketua Umum KONI Sumut Hatunggal Siregar beserta jajaran pengurus, di antaranya Indra Kasih, Bambang Kencono, dan Irwan Pulungan.
Dalam kesempatan itu, Bobby mengapresiasi perkembangan prestasi olahraga Sumatera Utara yang menunjukkan peningkatan dalam beberapa edisi PON. Menurutnya, capaian tersebut merupakan hasil dari proses pembinaan yang telah dilakukan berbagai cabang olahraga selama bertahun-tahun.
Baca Juga: Usai Komentarnya Viral Soal Komunitas Lari di Teladan, Kini Bobby Bela Banban Data yang dipaparkan menunjukkan Sumut berhasil menempati peringkat kedelapan pada PON Riau 2012, peringkat kesembilan pada PON Jawa Barat 2016, peringkat ke-12 pada PON Papua 2021, hingga melonjak ke peringkat keempat nasional pada PON Aceh–Sumut 2024.
"Untuk mendapatkan tren positif, setidaknya kita harus mempertahankan peringkat nasional sampai tiga atau empat kali. Tetapi untuk menjaga itu, perlu pembinaan atlet melalui cabang olahraga yang intensif," ujar Bobby.
Ia menilai keberhasilan meraih posisi empat besar nasional harus dijadikan pijakan untuk meningkatkan kualitas pembinaan atlet secara lebih terstruktur dan berkelanjutan. Pemerintah daerah, kata dia, siap mendukung berbagai program yang bertujuan meningkatkan prestasi olahraga di Sumut.
Selain pembinaan, Bobby juga menyoroti pentingnya menjaga loyalitas atlet berprestasi agar tidak berpindah ke daerah lain. Menurutnya, fenomena perpindahan atlet kerap terjadi ketika daerah lain menawarkan fasilitas atau insentif yang lebih menarik.